Caleg Sakit Jiwa, implikasinya? April 17, 2009
Posted by GuZz-LeoN in Uncategorized.Tags: caleg, dpr, gila, indonesia, jiwa, korupsi, legislatif, pemerintah, pemilu, politik, rakyat, sakit
trackback

Ketika calon-calon legislatif yang notabene adalah wakil rakyat yang seharusnya berpengalaman dan terpelajar dilaporkan bunuh diri, sakit jiwa, shock, sarap alias gila, ada 2 reaksi bertentangan yang kemudian saya keluarkan:
1. Tertawa terbahak-bahak
2. Kasihan
Tersenyum, kemudian tertawa terbahak-bahak, alias ngakak.. Itu reaksi pertama yang sudah sepantasnya dikeluarkan oleh orang-orang yang masih waras. Gelombang antrean para caleg untuk menjadi penghuni rumah sakit jiwa (RSJ) memang sudah diantisipasi. Di tengah begitu banyaknya caleg dan partai yang berkompetisi untuk menjadi wakil rakyat dan menghuni DPR, wajarlah kita mendengar caleg A mengeluarkan puluhan juta rupiah, caleg B mengeluarkan ratusan juta rupiah hanya untuk sekedar mendapatkan nomor urut atas dalam pemilu legislatif ini. Wajarlah pula kita mendengar ratusan juta rupiah dihambur-hamburkan begitu saja untuk beriklan, membayar orang2 agar memilih caleg tersebut. Akan semakin wajar lagi kalau kita mengingat ini negara Indonesia dimana uang berbicara, apapun bisa dilakukan.
Dan semakin wajar lagi secara psikologis, bahwa pupusnya harapan dan kekayaan materiil, terutama, yang terlalu besar, pastilah membuat pemiliknya stress kemudian sakit jiwa.
Apa yang lucu?
Fenomenanya sendiri membuat orang bisa sakit perut. Mulai dari pengambilan kembali TV yang disumbangkan ke warga sekitar, penarikan kembali uang yang sudah disumbangkan, penutupan lahan, pemblokiran jalan, sampai ke pengusiran warga yang menempati tanah sang caleg tidak terpilih tadi. Di beberapa daerah seperti di Buleleng misalnya, caleg meninggal, shock karena serangan jantung akibat rendahnya jumlah orang yang memilih dia. Di lain tempat, beberapa caleg sudah mulai mengunjungi RSJ karena gangguan mental. Di tempat lain lagi, seorang caleg shock berat karena mengetahui perolehan suaranya jauh melampaui target.
Aneh memang manusia itu..
Tidak logis, tidak rasional.
Tapi apalah yang rasional dalam ilmu politik dan pemerintahan? Apalah yang logis di negara tercinta kita Republik Indonesia?
Fenomena ini lucu sekaligus memprihatinkan. Nyatalah bahwa calon-calon legislatif kita banyak yang OMDO alias omong doank. Janjinya palsu, membuai orang-orang yang mendengar, bagaikan madu bagi yang mendengar, tapi tidak akan pernah ditepati. Kenapa saya berkata demikian? Pada dasarnya calon-calon legislatif ini gila karena 1 hal. Tidaklah mungkin mereka sebodoh itu, mengeluarkan uang ratusan juta bahkan milyaran rupiah hanya untuk menjadi wakil rakyat yang jujur, mengutamakan rakyat. Tentulah sebagai manusia yang rasional, uang itu harus dikembalikan, entah bagaimana caranya. Dan saya dan anda sekalian tentulah tahu bagaimana caranya. Apa lagi kalau bukan korupsi habis-habisan waktu sudah duduk di kursi empuk DPR nanti. Menjadi wakil rakyat sudah berubah menjadi sebuah pekerjaan yang lucrative, menghasilkan duit. Mana bisa membela rakyat nantinya?
Dan pada akhirnya masyarakat Indonesia secara umum menjadi tumbalnya. Yang miskin menjadi semakin miskin. Rakyat, yang meskipun terus-menerus digembar-gemborkan sudah tidak bodoh lagi, sudah tidak miskin lagi, ya kenyataannya tambah bodoh dan miskin saja. Dari masa ke masa, bukannya semakin baik, keadaan menjadi makin buruk bagi masyarakat kelas bawah. Yang kaya, tidak usah ditanya lagi, pastilah semakin kaya. Ketika manusia menjadi semakin individualistis dan dunia terserang krisis ekonomi seperti sekarang ini, siapalah yang mau peduli dengan rakyat kecil? Orang saya juga rugi kok, ngapain repot-repot dengan orang lain?
Dan negara kita, kecuali lewat sebuah perubahan dan revolusi besar, sepertinya harus menerima kenyataan bahwa korupsi dan kemiskinan itu lumrah. Setiap orang harus mencari uang sendiri-sendiri, entah lewat cara yang legal ataupun yang ilegal. Dan lama-kelamaan tanpa disadari itu menjadi satu karakter bangsa Indonesia.
Sudah sepatutnyalah kita malu melihat negara-negara lain yang dulu berguru pada Indonesia semacam Malaysia dan Vietnam terus semakin jauh meninggalkan kita. HDI kita terus terperosok. Kualitas pendidikan semakin tertinggal. Rakyat yang miskin terus miskin.
Sungguh kasihan.
Memang perubahan itu ada. Setidaknya ke arah yang lebih baik, meskipun belum menyeluruh. Negara kita setidak-tidaknya lebih baik pertumbuhan ekonominya dibanding negara-negara di kawasan regional lain. Pemerintahan cenderung semakin stabil dan cenderung relatif aman.
Tapi selama korupsi yang sudah mendarah daging ini belum diberantas, terbukti dari makin banyaknya caleg yang masuk RSJ karena tujuannya untuk korupsi nanti waktu sudah di DPR tidak kesampaian, bolehlah kita tidak bermimpi jauh-jauh.
Selama sumber daya alam dan manusia Indonesia yang hebat dan cemerlang ini tidak dimanfaatkan dengan baik karena maraknya korupsi, tidaklah heran kalau kemudian banyak orang Indonesia hanya menjadi orang Indonesia secara KTP, kalau kaum minoritas tidak menganggap Indonesia sebagai negaranya. Semuanya mengejar kepentingan pribadi.
Sedemikian hingga seandainya hari ini Indonesia diserang penjajah, di-agresi negara lain, apa yang akan anda lakukan? Membela negara mati-matian atau lari dengan semua harta benda anda?
Anda sendiri tahu jawabannya..
Komentar»
No comments yet — be the first.